Batasan Pertahanan Diri Insan Dalam Menghadapi Godaan Hidup

Batasan Pertahanan Diri Manusia Dalam Menghadapi Godaan Hidup Batasan Pertahanan Diri Manusia Dalam Menghadapi Godaan Hidup
- "Adapun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan dunia, maka tolong-menolong nerakalah daerah tinggalnya. Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Rabb-Nya dan menahan diri dari hawa nafsunya, maka tolong-menolong surgalah daerah tinggalnya." (Al-Qur'an surat An-Naziat ayat 37-41)

Manusia seharusnya bakir menangkap arahan batas ruang gerak dan bisa berguru menahan diri semoga tidak melampaui batas. Keutamaan akan diperoleh bila semua yang ada pada diri penggunanya diubahsuaikan dengan limit ketetapan Allah Subhanahu wa Ta'ala yang merupakan Sang Pencipta. Apabila tidak diindahkan, maka akan terjadi over limit (melampaui batas) yang menjadikan kehancuran diri.

Akhirnya, sesuai dengan konsekuensi yang diambil akan berujung pada dua daerah kembali yang disediakan oleh-Nya (surga atau neraka). Hawa nafsu merupakan nikmat dari Allah dan fitrah-Nya atas manusia, hanya saja kecenderungannya lebih kepada keburukan, dalam Al-Qur'an Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya nafsu itu suka mengajak ke jalan keburukan, kecuali nafsu seseorang yang mendapat rahmat Tuhanku." (Al-Qur'an surat Yusuf ayat 53)


Kekuatan umat muslim di dalam hidup 


Menunaikan perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala dan menjauhi larangan-Nya merupakan titik sentral kekuatan manusia, khususnya umat muslim, beberapa di antaranya ialah:

1. Mendirikan shalat


Sebagai mana yang telah difirmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala, rem atau pencegah dari perbuatan keji dan munkar ialah melalui shalat. "Sesungguhnya shalat sanggup mencegah kekejian dan kemungkaran." Al-Qur'an surat Al-Ankabut ayat 45). Shalat bukan hanya ibadah formal dan ritual, tetapi juga harus berdampak pada pengamalan dalam kehidupan sehari-hari.

2. Menjaga lisan (ucapan)


"Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya ia menyampaikan yang baik atau diam." (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim). Jika orang yang beriman, maka ia akan berbicara atau yang akan keluar dari mulutnya hanya kebenaran (al-haq), kejujuran, zikir, tidak mencaci dan tidak bergosip. Selain itu ia tidak berkata lemah lembut dengan maksud menarik perhatian lawan jenis. "Maka janganlah kau tunduk dalam berbicara, sehingga berkeinginanlah orang yang berpenyakit dalam hatinya." (Al-Qur'an surat Al-Ahzab ayat 32)

3. Menjaga teladan makan dengan masakan yang baik lagi halal


"...makan dan minumlah, janganlah berlebih lebihan (melampaui batas). Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan." Asupan kualitas dan kuantitas, kehalalan dan ke-thayib-an, menjadi penduan untuk mengatur apa yang masuk ke dalam badan seorang muslim. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menghindari makan dan minum yang berlebihan. Beliau hanya melakukannya pada ketika perut terasa lapar. Beliau mengisi perutnya dalam tiga bagian, sepertiga untuk makan, sepertiga untuk minum, dan sepertiga lagi untuk bernapas (udara).

4. Menjaga kehormatan


Persyaratan ini mutlak dimiliki seorang muslim, lantaran hal ini berkaitan dengan berhasil tidaknya seseorang masuk ke dalam nirwana Allah. Sebagaimana yang telah diterangkan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Al-Qur'an surat Al-Mukminun ayat 5-7. Untuk menjaga kehormatannya dan juga untuk bekerjasama dengan pasangannya (yang sah atau dalam ikatan pernikahan) saja.

5. Menahan pandangan


Dalam Al-Qur'an surat An-Nur ayat 30-31, Allah memerintahkan seorang hamba yang beriman untuk menjaga pandangannya, tak dibedakannya antara pria maupun perempuan, lantaran keduanya bisa saling tertarik secara syahwat. Pengharaman melepaskan pandangan, disebabkan perbuatan tersebut sanggup merusak hati, memikirkan, mengangankan apa yang dilihat kemudian berhasrat mewujudkannya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Pandangan yaitu panah beracun dari Iblis." (Hadits riwayat Ahmad)

Bila seseorang tidak sanggup menahan pandangannya, pusat inti kekuatannya, yaitu hati, sudah dikuasai setan. "Di dalam badan insan ada segumpal daging. jikalau ia baik, maka oke seluruh tubuhnya. Segumpal daging itu yaitu hati." (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)

Dan begitupun sebaliknya, jikalau ia bisa menahan pandangannya, maka ia akan mendapat nikmatnya iman. "Pandangan mata yaitu panah beracun dari iblis. Siapa yang meninggalkannya lantaran takut kepada Allah, maka Allah akan memberikannya keimanan yang dirasakan kenikmatannya dalam hati." (Hadits riwayat Hakim, Thabrani dan Baihaqi)


6. Menahan hawa nafsu


Menahan hawa nafsu membutuhkan usaha yang ekstra besar. Manusia yang berjuang mengendalikan hawa nafsunya akan memperoleh rahmat dan hidayah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sehingga ketika ia "pulang" (meninggal dunia), maka jiwanya dalam keadaan terang. "Allah rido terhadap mereka dan mereka pun rido kepada-Nya." (Al-Qur'an surat Al-Bayyinah ayat 8)

"Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhan-Mu dengan hati yang puas lagi diridoi." (Al-Qur'an surat Al-Fajr ayat 27-28)

"Barangsiapa yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah, maka hendaklah beliau melihat kedudukan Allah di sisinya, lantaran tolong-menolong Allah memperlihatkan kedudukan kepada seorang hamba di sisi-Nya sesuai dengan bagaimana hamba itu memperlihatkan kedudukan kepada-Nya di sisinya." (Hadits riwayat Hakim)

Nah, itulah artikel tentang "Batasan Pertahanan Diri Manusia Dalam Menghadapi Godaan Hidup". Apabila terdapat kesalahan dalam penulisan, mohon maaf. Jika ada kritik, saran maupun hal-hal lainnya, bisa menghubungi Admin di hidangan yang telah tersedia :) Semoga artikel ini bermanfaat dan bisa membawa efek yang baik. Wallahu a'lam bisshawab

"Gambar dan isi goresan pena di dalam postingan ini diambil dan diperbaharui dari banyak sekali sumber, mohon maaf apabila terdapat kesalahan, baik itu maksud dari isi postingan ini atau kesalahan apapun. Bijaklah dan selalu berguru untuk mengambil sisi positifnya ya sob!"

Kata kunci terkait pada artikel ini:

Limit pertahanan diri insan dalam menunaikan perintah Allah