Peristiwa Diangkatnya Muhammad Menjadi Rasulullah

Peristiwa Diangkatnya Muhammad Menjadi Rasulullah Peristiwa Diangkatnya Muhammad Menjadi Rasulullah
- Pada ketika itu, ketika Muhammad (shallallahu 'alaihi wa sallam) sebelum diangkat menjadi Rasul Allah dan beliau (shallallahu 'alaihi wa sallam) berusia empat puluh tahun, pemugaran Ka'bah telah berlalu lima tahun lamanya. Muhammad mempunyai kebiasaan sebagaimana kebiasaan kaum Quraisy pada waktu itu, yaitu pergi meninggalkan urusan duniawi untuk menyepi. Orang-orang Quraisy menamakannya ber-khalwat. Sedangkan jikalau menyepi dengan masakan dan minuman sekadarnya sambil mensyukuri kebesaran Allah, disebut ber-tahanuts (kira-kira semacam bersemedi). Itulah yang dilakukannya sekali setiap tahun.

Munculnya malaikat Jibril dengan menunjukkan wahyu pertama


Dia melaksanakan tahanuts di Gua Hira. Gua itu terletak di puncak Gunung An-Nur, erat Mekah. Dia melaksanakan hal menyerupai itu sudah semenjak bertahun-tahun yang lalu. Tetapi, pada ketika itu ada insiden penting yang terjadi. Malam itu, tanggal 17 Ramadhan Tahun Gajah ke-41 atau bertepatan dengan tanggal 6 Agustus 610 Masehi, Muhammad sedang tidur di Gua Hira dalam acara tahanuts-nya. Tiba-tiba datanglah Malaikat Jibril, membawa baki beralaskan kain sutera. Di atasnya terdapat sebuah kitab.

"Bacalah!" seru Malaikat Jibril.

Muhammad yakni seorang yang buta huruf. Ia tidak sanggup membaca dan menulis. Maka Muhammad pun menjawab: "Aku tidak sanggup membaca."

Malaikat Jibril merangkul Muhammad. Gemetar seluruh badan Muhammad alasannya takut. Tidak usang kemudian Malaikat jibril melepaskan rangkulannya.

"Bacalah!" kata Malaikat Jibril lagi.

"Aku tidak sanggup membaca." jawab Muhammad lagi.

Malaikat Jibril kembali merangkul Muhammad, dan melepaskannya kembali. Saat dalam pelukan Malaikat Jibril, Muhammad mencicipi seolah ajalnya hampir tiba.

Kini Malaikat Jibril berkata dengan kalimat yang cukup panjang. "Bacalah dengan nama Rabbmu yang telah membuat (segala sesuatu). Dia membuat insan dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmu Yang Maha Pemurah. Yang megajari insan dengan perantaraan kalam. Dia mengajari insan apa yang belum diketahuinya."

Muhammad menirukan ucapan Malaikat Jibril. Itulah wahyu pertama yang diturunkan oleh Allah kepada nabi-Nya (Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam).

Begitu terjaga dari tidurnya, Muhammad mencicipi seakan-akan ucapan Malaikat Jibril itu menempel dalam hatinya. Ia kemudian keluar dari gua, berdiri di puncak Gunung Hira.

Terdengarlah olehnya bunyi Malaikat Jibril, "Hai Muhammad, engkau utusan (rasul) Allah dan saya Malaikat Jibril berwujud seorang pria di cakrawala."

Tidak usang kemudian, terdengar lagi bunyi itu, "Hai Muhammad, engkau yakni utusan Allah dan saya Malaikat Jibril."

Muhammad kemudian melihat seorang pria berdiri di cakrawala. Terdengar lagi bunyi Malaikat Jibril, "Hai Muhammad, engkau utusan Allah dan saya Malaikat Jibril."

Muhammad berpaling ke arah lain. Malaikat Jibril ada di sana, di cakrawala. Muhammad berpaling ke arah lain lagi. Dan tanpa diketahui Malaikat Jibril ada di depannya. Demikianlah berulang kali. Ke mana Muhammad menghadap, di sanalah Malaikat Jibril berada.

Ada beberapa orang lelaki mendaki gunung itu. Mereka yakni orang-orang suruhan Khadijah (merupakan istri Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam) untuk mencari Muhammad yang telah lama meninggalkan rumah untuk ber-tahanuts. Namun, mereka gagal, kemudian mereka kembali turun.

Malaikat Jibril akibatnya pergi. Lenyap dari pandangan mata. Muhammad pun segera pulang. Kepada istrinyalah, dia menceritakan pengalamannya itu. "Jelaskan suamiku, engkau telah dipilih Allah untuk memimpin umat manusia." kata Khadijah.

Muhammad kemudian beristirahat untuk memulihkan tenaganya. Karena selama berada di Gua Hira, ia sangat kurang makan, minum dan tidur.

Khadijah menceritakan pengalaman dari suaminya itu kepada sepupunya, yaitu Waraqah bin Naufal. Sepupunya itu, mendengarkan penuturan Khadijah dengan seksama.

Waraqah termasuk orang yang sudah mempelajari kitab-kitab agama pada masa itu. Ia pernah mendengar dari para pendeta Yahudi dan Kristen bahwa kelak akan tiba seorang Nabi berjulukan Ahmad. Dialah Nabi terakhir yang membawa fatwa sempurna.

"Qudus... qudus!" sahut Waraqah bin Naufal sesudah mendengar penuturan sepupunya itu. "Demi Allah yang nyawaku berada di tangan-Nya, suamimu itu didatangi malaikat yang dulu mendatangi Musa. Sungguh, Muhammad yakni Nabi bagi umat ini."

Khadijah kemudian pulang dan memberikan apa yang didengarnya itu kepada suaminya.


Beberapa hari kemudian, Muhammad bertawaf (berjalan mengelilingi ka'bah). Ia memang biasa melaksanakan itu. Di situ, ia bertemu dengan Waraqah bin Naufal, sepupu Khadijah.

"Hai Muhammad." kata Waraqah. "Kau telah didatangi malaikat yang dulu mendatangi Musa. Engkau seorang nabi. Tabahlah, engkau akan mengalami kesulitan. Kau akan diganggu, diperangi, bahkan diusir dari negeri ini. Seandainya saya mengalami hari-hari pertamamu berdakwah, saya akan membela kebenaran agama Allah."

Waraqah bin Naufal kemudian menciun ubun-ubun Muhammad. sekarang Muhammad yakin akan kebenaran ramalan terhadap dirinya, bahwa dialah insan yang dipilih Rabb Yang Maha Agung, yakni Allah untuk memimpin umat pada agama Allah.

Ketika itu Muhammad sering pergi ke Gua Hira. Ia mengharapkan bertemu lagi dengan Malaikat Jibril. Namun harapannya sia-sia. Berkali-kali ia ber-tahanuts di Gua Hira, Malaikat Jibril pun tidak muncul.

Dia murung sekali. Sering kali dia berdiri di puncak gunung, menanti kedatangan Malaikat Jibril. Namun, yang dinanti tidak kunjung tiba juga.

Begitulah dari hari ke hari, Muhammad larut dalam kebimbangan dan kesedihan. "Hai Muhammad!" terdengar bunyi itu. "Engkau benar-benar Rasulullah!"

Tidak salah lagi, itu bunyi Malaikat Jibril. Muhammad bersyukur, tetapi Malaikat Jibril itu tidak kelihatan dan tidak terdengar lagi suaranya.

Begitu terjadi berulang kali. Sampai pada suatu hari, Muhammad sedang berjalan. Terdengar bunyi dari langit. Ia pun melihat ke langit. Dilihatlah Malaikat Jibril duduk di atas kursi, mengambang di antara langit dan bumi.

Muhammad merasa takut. Ia menundukkan kepalanya, kemudian bergegas pulang. Tubuhnya menggigil seolah kedinginan. "Selimutilah aku." katanya kepada istrinya.

Khadijah kemudian menyelimuti suaminya. Beberapa ketika kemudian, Allah menurunkan wahyunya: "Hai orang yang berselimut, bangunlah, kemudian berilah peringatan (kepada umatmu)! Agungkanlah Allah, Tuhanmu. Dan bersihkanlah pakaianmu serta jauhi perbuatan dosa." (Al-Qur'an surat Al-Mudatstsir ayat 1-5)

Muhammad bersyukur, wahyu itu ternyata tidak berhenti. Allah berkenan menurunkan wahyu-Nya lagi.

Sejak ketika itu, wahyu pun tiba susul-menyusul. Muhammad membawa fatwa Islam, agama yang paling sempurna.


Nah, itulah artikel tentang "Peristiwa Diangkatnya Muhammad Menjadi Rasulullah". Apabila terdapat kesalahan dalam penulisan, mohon maaf. Jika ada kritik, saran maupun hal-hal lainnya, sanggup menghubungi Admin di sajian yang telah tersedia :) Semoga artikel ini bermanfaat dan sanggup membawa efek yang baik. Wallahu a'lam bisshawab

"Gambar dan isi goresan pena di dalam postingan ini diambil dan diperbaharui dari banyak sekali sumber, mohon maaf apabila terdapat kesalahan, baik itu maksud dari isi postingan ini atau kesalahan apapun. Bijaklah dan selalu mencar ilmu untuk mengambil sisi positifnya ya sob!"

Kata kunci terkait pada artikel ini:

Sejarah diangkatnya Muhammad menjadi Nabi dan utusan Allah